Review Buku Filsafat Ilmu : Filsafat Ilmu (Kajian Filosofis atas Sejarah dan Metodologi Pengetahuan)
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Nama : Puput Puspita Ningrat
Nim : 203010702029
Jurusan : Ilmu Administrasi Negara/A
Review Buku Filsafat Ilmu
A. Identitas Buku
Judul Buku : Filsafat Ilmu (Kajian Filosofis atas Sejarah dan Metodologi Ilmu Pengetahuan)
Pengarang : Yeremias Jena
Penerbit : Deepublish
Tahun Terbit : Juli 2015
Jumlah Halaman : 267 halaman
B. Sinopsis
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah cabang dari filsafat yang mempelajari dasar atau fundamen, metode dan implikasi dari sains. Persoalan utama yang hendak diangkat filsafat ilmu pengetahuan sebenarnya adalah bagaimana mengkaji atau merefleksikan secara filosofis unsur-unsur hakiki dari reliabilitas teori-teori ilmiah dan tujuan-tujuan yang hendak diwujudkan ilmu pengetahuan. Selain kedua ranah tersebut, masih ada ranah lain yang juga menarik, yaitu diskusi filosofis seputar sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan diskursus filosofis atas ilmu-ilmu dan hubungan mereka dengan agama dan religiositas. Keempat ranah tersebut adalah empat teori besar filsafat ilmu. Dan tiga dari empat teori besar tersebut dibahas dalam buku ini.
Kajian historis mengambil porsi yang cukup besar dalam buku ini, terutama dalam bab-bab mengenai pemikiran Yunani Kuno mengenai sains, problem realisme ilmiah dan Revolusi Kopernikus, polemik sains di abad 17 dan 18, serta kritik terhadap positivisme. Kajian ini bertujuan untuk menunjukkan betapa ilmu pengetahuan berkembang dalam sejarah dan budaya tertentu. Dalam arti itu, kecenderungan ilmu pengetahuan yang ingin membebaskan diri dari tanggung jawab sosial seharusnya tidak diberi tempat.
C. Isi Buku
Agar lebih mudah dipahami materi-materi yang dibahas dibuku ini dibagi dalam dua belas bab dengan beberapa sub-bab didalamnya. Buku ini diawali dengan upaya mendefinisikan filsafat dari filsafat pengetahuan ke filsafat ilmu pengetahuan pada bab pertamanya. Sebagai pengantar, bab ini membantu pembaca menangkap cita rasa filsafat dalam konteks refleksi filosofis mengenai ilmu pengetahuan. Pembahasan selanjutnya, pada bab ke-2 penulis mempersoalkan masalah fakta diantara keyakinan dan objektivitas. Jika ilmu pengetahuan berpesentasi mempelajari fakta atau fenomena, kita harus memahami seperti apa definisi ilmiah atas fakta atau fenomena tersebut. Definisi yang hanya mementingkan objek sejauh diobservasinya hanya akan mereduksi kan ilmu pengetahuan kepada sifatnya yang positivistik. Dan ini yang didiskusikan lebih lanjut dalam bab ke-8 buku ini.
Bab ke-3 buku ini mencoba mengangkat masalah tentang bagaimana menentukan batas antara ilmu pengetahuan dan bukan ilmu pengetahuan. Uraian pada bab ini menegaskan bahwa upaya dalam menjelaskan realitas tidak seharusnya dimonopoli oleh ilmu pengetahuan. Dengan mendefinisikan ilmu pengetahuan secara profesional dan mengenal watak-wataknya dapat membantu kita menyadari wilayah-wilayah atau fenomena seperti apakah yang sebetulnya tidak bisa dipahami dan dijelaskan oleh pengetahuan. Dan dengan demikian kita semakin menyadari keterbatasan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lalu pada bab selanjutnya, pada bab 5-8 buku ini membahas mengenai ilmu pengetahuan dari perspektif sejarah. Pembahasan ini meliputi tentang pemikiran Yunani Kuno dan abad pertengahan tentang ilmu pengetahuan, relisme ilmiah dan Revolusi Kopernikus, polemik sains di abad ke-17 sampai abad ke-18 dan dimensi-dimensi ilmu pengetahuan. Meskipun tidak lengkap, ban-ban ini memberikan kekayaan perspektif untuk melihat bagaimana ilmu pengetahuan berkembang secara evolutif dalam sejarah. Dan menginformasikan bahwa ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan pesat seperti sekarang sebenarnya berangkat dari sebuah fenomena manusiawi yang sangat sederhana, yakni dorongan untuk mengetahui.
Uraian kemudian dilanjutkan dengan membahas reliabilitas ilmu pengetahuan, yaitu mengenai metodologi ilmu pengetahuan pada bab ke-9 serta mengenai kebenaran dan teori ilmiah yang diuraikan pada bab ke-10. Dari pembahasan ini kita dapat menyadari bahwa metode-metode ilmu pengetahuan telah dikembangkan dengan maksud untuk membimbing kita dalam perjalanan ini. Dan bahwa memutlakkan salah satu metode dalam pencapaian kebenaran hanya akan memiskinkan realitas yang hendak dipahami. Bab ini juga menegaskan bahwa teori ilmiah selalu dibangun berdasarkan ketegangan tidak hanya berbagai teori kebenaran, tetapi juga diskursus antara realisme dan antirealisme.
Lalu pada bab ke-11 menguraikan tentang ilmu dan nilai-nilai kemanusiaan. Pada bab ini dibahas secara spesifik mengenai tanggung jawab pengetahuan dan ilmuan. Para ilmuwan memiliki tanggung jawab moral memajukan kebaikan masyarakat sejak hari pertama memasuki komunitas ilmiah.
Bulu ini ditutup dengan pembahasan di bab ke-12 yaitu mengenai pentingnya demokrasi dalam teknologi. Jika pengetahuan saja bersifat terbatas, maka teknologi pun bersifat terbatas. Keterbatasan teknologi ini seharusnya memicu kesadaran untuk membatasi penggunaan teknologi terutama teknologi yang bersifat merugikan dan menghancurkan. Salah satu cara membatasi aplikasi teknologi adalah dengan melibatkan masyarakat dalam seluruh proses penerapan suatu teknologi. Inilah yang disebut gerakan mendemokrasikan teknologi.
D. Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan buku ini adalah penjelasan dan pembagian bab nya sangat tepat dan rapi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Bagian pendahuluan sangat rinci dan menarik karena telah menjelaskan dan menggambarkan keseluruhan isi buku.
Pada setiap awal bab juga disertai tujuan pembelajaran sehingga memudahkan dalam mengkomunikasikan tujuan penulisan menerangkan teori tersebut sehingga pembaca dapat melakukan kegiatan belajarnya dengan mandiri. Selain itu, penulis juga memberikan catatan kecil dibawah penjelasan untuk beberapa penjelasan yang dianggap sulit untuk dipahami. Penulisan juga menambahkan beberapa gambar bukan hanya untuk hiasan agar tidak bosan melainkan juga untuk memperjelas penjelasannya. Dan pada bagian akhir buku sebelum halaman tentang penulis, diberikan glosarium untuk kata-kata yang dianggap asing ditelinga pembaca sehingga mempermudah pembaca untuk memahami istilah-istilah ilmu pengetahuan yang ditemui saat membaca buku ini.
Dengan segala kelebihan buku ini, saya pribadi sulit menemukan adanya kesalahan maupun kekurangan dari buku karya Yeremias Jena ini, hanya saja mungkin karena notabenenya Yeremias Jena ini adalah seorang dosen filsafat ilmu fakultas psikologi, sehingga pembahasan dari tema lebih terfokus pada masalah filsafat ilmu yang berkaitan dengan ranah seputar psikologi.
E. Kesimpulan
Buku ini banyak membahas tema-tema menarik seperti polemik sains di abad ke-17 sampai abad ke-18 dan positivisme logis. Pembahasan antar bab juga saling terikat satu sama lain. Selain itu, buku ini juga membahas beberapa tema yang jarang didiskusikan dan dibahas dalam buku-buku filsafat ilmu pengetahuan lain di tanah air, salah satunya tema mengenai demokrasi teknologi.
Untuk itu, dengan segala kelebihan dan kelengkapan yang diberikan penulis pada buku ini, maka menurut saya buku Filsafat Ilmu (Kajian Filosofis atas Sejarah dan Metodologi Ilmu Pengetahuan) karya Yeremias Jena ini sangat direkomendasikan untuk menjadi pegangan mahasiswa maupun literatur bagi pemula mulai ingin memperlajari filsafat.