Landasan Berpikir Filsafat dan Studi Kasusnya
Mata kuliah : Filsafat ilmu
Dosen : Dr. Sally Sihombing, S.IP., M.Si
Nama : Puput Puspita Ningrat
Nim : 203010702029
kelas : IAN/A
A. Question
Jujun Suriasumantri berpendapat bahwa semua pengetahuan apakah itu ilmu, Seni atau pengetahuan apa saja pada dasarnya memiliki tiga landasan berpikir yaitu, ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Termasuk dalam hal ilmu filsafat, berikut penjelasannya:
1. Landasan berpikir ontologis
Ontologis membahas apa saja yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang keberadaan. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu. Dilihat dari landasan ontologis, maka ilmu akan berlainan dengan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya.
Ontologis ilmu adalah ciri-ciri yang esensial dari obyek ilmu yang berlaku umum, artinya dapat berlaku juga bagi cabang-cabang ilmu yang lain. Ilmu bersandarkan pada beberapa asumsi dasar untuk mendapatkan pengetahuan tentang fenomena yang nampak. Asumsi dasar ialah anggapan yang merupakan dasar dan titik tolak bagi kegiatan setiap cabang ilmu pengetahuan. Obyek materi dari ilmu pengetahuan adalah hal-hal atau benda-benda empiris.
Contoh dari pemikiran ontologis dalam suatu kegiatan keilmuan adalah seperti, apa yang dimaksud dengan laboratorium dan apa yang dimaksud dengan perpustakaan.
2. Landasan Pemikiran Epistemologis
Epistemologis adalah teori pengetahuan. Salah satu cabang filsafat yang mempermasalahkan hakikat pengetahuan, sumber-sumbernya, syarat-syarat memperoleh pengetahuan, kebenaran dan kepastian pengetahuan serta hakikat kehendak dan kebebasan manusia dalam pengetahuan.
Epistemologis membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Landasan dari epistemologis ilmu pengetahuan adalah analisis tentang proses tersusunnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan disusun melalui proses yang disebut metode ilmiah.
Contoh dari pemikiran epistemologis dalam suatu kegiatan keilmuan adalah seperti, apa yang dimaksud dengan pengetahuan, bagaimana seseorang bisa mengetahui sesuatu, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, bagaimana cara menilai validitas, serta apa perbedaan antara pengetahuan apriori dan pengetahuan apoteriori.
3. Landasan Pemikiran Aksiologis
Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Landasan aksiologis dari ilmu pengetahuan adalah analisi tentang penerapan hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan. Penerapan ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk memudahkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dari keseluruhan hidup manusia. Aksiologis berarti ilmu yang mencari tahu sebuah manfaat atau niai yang didapat dari sebuah analisis Ilmu pengetahuan tersebut.
Contoh dari pemikiran aksiologis dalam suatu kegiatan keilmuan adalah seperti, apa manfaat dari kita memahami virus dan bakteri yang terkandung pada makanan.
B. Mission
Kajian filsafat mungkin terdengar asing untuk sebagian besar masyarakat. Begitu juga contoh kasus dari ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Sebenarnya cukup sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, dikarenakan kebanyakan dari kita tida familiar dengan kajian filsafat, maka contoh-contoh tersebut sering luput dari perhatian kita. Maka dalam pembahasan kali ini akan dipaparkan salah satu contoh studi kasus.
Studi kasus mengenai pemikiran ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam satu kesatuan. Misalnya studi kasus mengenai rumah betang sebagai rumah bagi suku Dayak.
1. Ontologis
Di jaman sekarang kebanyakan orang akan memilih membangun rumah dengan gaya modern atau dengan gaya-gaya lainnya yang kebanyakan berdiri langsung diatas tanah. Model rumah seperti ini sekarang banyak kita jumpai dibeberapa daerah di Indonesia, termasuk daerah Kalimantan Tengah yang merupakan merupakan masyarakat suku Dayak yang notabenenya memiliki bentuk pondasi rumah yang berbeda dari daerah lain. Yaitu bentuk rumah panggung atau yang biasa disebut rumah Betang.
Menurut Plato, realitasnya adalah ide atau gambaran yang membuat kita selalu mengenali tentang rumah Betang. Ditengah begitu banyaknya model rumah, namun ide ataupun pengertian tentang rumah Betang yang membuat orang-orang tetap mengenali bahwa rumah itu adalah rumahnya masyarakat suku Dayak meskipun bentuknya sudah termodernisasikan dan fungsinya sudah berubah misal sebagai balai pertemuan, museum, dan lain sebagainya.
Orang-orang akan tetap mengenalinya sebagai rumah tempat beberapa keluarga berkumpul untuk hidup bersama dalam toleransi.
2. Epistemologis
Sebelumnya sudah diketahui bahwa epistemologis adalah cara manusia dalam memperoleh sebuah ilmu pengetahuan. Maka jika sebelumnya kita membahas mengenai rumah betang, maka pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu tersebut disebut sebagai rumah betang. Apa saja yang kita lihat sehingga kita mengetahui bahwa yang sedang kita lihat adalah rumah betang, meskipun bukan rumah seseorang dan merupakan bangunan yang digunakan untuk umum misal untuk museum.
Epistemologis dari rumah betang adalah bagaimana cara kita mengetahui bahwa bangunan yang kita lihat adalah rumah betang. Bentuk fisik berupa rumah panggung yang merupakan ciri khas dari bangunan itu sendirilah yang membuat orang-orang yang melihatnya langsung mengatakan bangunan tersebut adalah rumah betang dan rumah adat suku Dayak. Terlepas dari adanya sedikit modernisasi dan perubahan fungsi pembangunan bangunan tersebut.
Awalnya kita akan menangkap keberadaan dan pengetahuan tentang bentuk rumah betang melalui panca indera kita yang kemudian selanjutnya akan dianalisis oelh otak atau akal. Akal yang akan mengklarifikasi informasi yang kita terima menjadi sebuah ilmu pengetahuan mengenai rumah betang.
Terlepas dari bentuknya yang dimodernisasikan dan fungsinya yang berubah, jika bangunan tersebut berupa rumah panggung dengan bentuk yg panjang dengan cat warna khas suku Dayak dan terdapat beberapa ornamen khas suku Dayak maka orang-orang akan menyebutnya rumah betang.
3. Aksiologis
Aksiologis membahas tentang manfaat dari ilmu pengetahuan yang kita peroleh. Ranah dari aksiologis ini sendiri adalah tentang etika dan estetika. Maka dengan aksiologis kita bisa menilai apakah ilmu pengetahuan yang kita peroleh tersebut bermanfaat atau tidak bermanfaat bagi kita. Maka jika kiat masih membahas mengenai ilmu pengetahuan rumah betang seperti sebelumnya, maka dengan aksiologis kita mencoba untuk mengetahui apakah rumah betang memberikan manfaat atau tidak untuk kehidupan umat manusia.
Misalnya jika kita membahas tentang rumah betang, dengan aksiologis kita mengetahui apa fungsi dibangunnya rumah betang, mengapa Betang dibangun berbentuk rumah panggung yang tinggi diatas tanah, mengapa rumah Betang dibangun panjang dan luas sehingga dapat menampung banyak anggota keluarga, dan mengapa masyakarat suku Dayak pada jaman dahulu masih membuat rumah panggung tinggi-tinggi.
Rumah betang dibangun berbentuk ruang panggung yang tinggi dikarenakan dulu lingkungan tempat tinggal orang-orang suku Dayak adalah hutan pedalaman yang mana rawan akan hewan buas sehingga mereka membangun rumah tinggi diatas permukaan tanah untuk menghindari hewan buas. Selain itu sebagian masyarakat menggunakan lahan bagian bawah rumahnya untuk memelihara hewan ternak seperti babi. Sedangkan bentuk rumah betang yang panjang dibangun diatas alasan bahwa rakyat suku Dayak menyukai kebersamaan. Karena didalam satu rumah betang tidak ditinggali oleh satu keluarga saja, melainkan beberapa keluarga dan mereka semua hidup dalam toleransi didalamnya.
Semoga bermanfaat:)
Sekian dan terimakasih.