Ilmu Yang Bebas Nilai & Ilmu Yang Tidak Bebas Nilai
Mata kuliah : Filsafat Ilmu
Dosen : Dr. Sally Sihombing, S.IP.,M.Si
Nama : Puput Puspita Ningrat
Nim : 203010702029
Kelas : IAN/A
Definisi ilmu dalam sebuah pengertian klasik dipandang sebagai pengetahuan tentang sebab-akibat atau asal usul. Sedangkan definisi nilai adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Kaitan ilmu dengan nilai-nilai membuatnya tak terpisahkan dengan nilai. Dalam filsafat terdapat dua pandangan mengenai ilmu, yaitu ilmu yang bebas nilai (value free) dan ilmu yang tidak bebas nilai (value Bond).
A. Deskripsi ilmu yang bebas nilai
Ilmu yang bebas nilai dalam bahasa Inggris sering disebut dengan value free, yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi adalah bersifat bebas, indefenden, dan otonom. Ilmu secara otonom tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan nilai. Bebas nilai berarti semua kegiatan terkait dengan penyelidikan ilmiah harus disandarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri. Teori ilmu bebas nilai berpandangan jika ilmu tidak bebas nilai maka perkembangan ilmu akan terhambat karena terikat dengan nilai-nilai yang ada.
Suatu ilmu dikatakan bebas nilai apabila pokok kajiannya tidak terbatas "bebas nilai" dan kelompok kajiannya berupa ilmu eksata. Ilmu eksata yaitu ilmu yang bersifat ilmiah dan selalu bisa berubah definisinya terhadap sesuatu jika sesuatu tersebut bisa dibuktikan definisinya.
Josep Situmorang berpendapat bahwa sekurang-kurangnya terdapat tiga faktor yang menjadi parameter atau indikator bahwa ilmu itu bebas nilai, yaitu :
1. Ilmu harus bebas dari pengendalian nilai. Maksudnya bahwa ilmu harus bebas dari segala pengaruh eksternal seperti ideologi, agama, sosial, maupun budaya.
2. Kebebasan usaha ilmiah supaya otonom ilmu terjamin, menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri.
3. Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang biasa dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.
Ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh dengan nilai-nilai yang letaknya diluar ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini dapat juga diungkapkan dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas. Maksud dari kata kebebasan disini adalah kemungkinan untuk memilih dan kemampuan subyek yang bersangkutan untuk memilih sendiri. Supaya terdapat kebebasan, harus ada penentuan dari dalam diri dan bukan penentuan dari luar. Jika dalam suatu ilmu tertentu terdapat situasi bahwa ada berbagai hipotesa atau teori yang semuanya tidak seharusnya memadai, maka sudah jelas akan dianggap sebagai suatu pelanggaran kebebasan ilmu pengetahuan, bila suatu instansi dari luar memberi petunjuk tentang teori mana yang harus diterima.
Denga bebas nilai, kita maksudkan suatu tuntutan dengan mengajukan kepada setiap kegiatan ilmiah atas dasar hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Orang yang mendukung bebas nilai ilmu pengetahuan akan melakukan kegiatan ilmiah berdasarkan nilai yang khusus yang diwujudkan ilmu pengetahuan. Karena kebenaran dijunjung tinggi sebagai nilai, maka kebenaran itu dikejar secara murni dan semua nilai lain akan dikesampingkan.
B. Contoh kasus ilmu yang bebas nilai
Dalam pandangan ilmu yang bebas nilai, eksplorasi alam tanpa batas dapat dibenarkan, karena hal tersebut untuk kepentingan ilmu itu sendiri, yang terkadang hal tersebut dapat merugikan lingkungan. Seperti halnya teknologi air conditioner (AC), yang ternyata berpengaruh pada pemanasan global dan membuat lubang ozon semakin melebar, tetapi ilmu pembuatan alat pendingin ruangan ini semata untuk pengembangan teknologi itu dengan tetap memperdulikan dampak yang ditimbulkan pada lingkungan sekitar.
Disini terlihat ada problem nilai ekologis dalam ilmu tersebut, tetapi ilmu bebas nilai menganggap ilmu ekologis tersebut menghambat perkembangan ilmu. Dalam ilmu bebas nilai, tujuan dari ilmu itu untuk ilmu.
C. Deskripsi ilmu yang tidak bebas nilai
Ilmu yang tidak bebas nilai dalam bahasa Inggris disebut dengan value bond, yang memandang bahwa ilmu itu selalu terikat dengan nilai dan harus dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek nilai. Perkembangan nilai tidak lepas dari nilai ekonomis, sosial, religius dan nilai-nilai yang lainnya.
Menurut salah satu filsuf Jurgen Habermas, berpendapat bahwa ilmu sekalipun ilmu alam tidak mungkin bebas nilai, karena setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Dia juga membedakan ilmu menjadi tiga macam sesuai kepentingan-kepentingan masing-masing, yaitu :
1. Berupa ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. Dari ilmu ini pula disusun teori-teori yang ilmiah agar dapat diturunkan pengetahuan-pengetahun terapan yang bersifat teknis. Pengetahuan teknis ini menghasilkan teknologi sebagai upaya manusia untuk mengelola dunia atau alamnya.
2. Berlawanan dengan pengetahuan yang pertama, karena tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai sesamanya.
3. Teori kritis, yaitu membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonom dirinya sendiri.
Ilmu yang tidak bebas nilai mau tidak mau peduli atas persoalan penderitaan manusia, ilmu ini peduli akan keselamatan manusia akan harkat dan martabat manusia. Ilmu jelas tidak bisa lepas dari nilai-nilai kepentingan baik politik, ekonomi, lingkungan dan lain sebagainya.
D. Contoh kasus ilmu yang tidak bebas nilai
Saat ini perkembangan teknologi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu teknologi yang ramai diperbincangkan sekarang adalah teknologi human cloning. Hal ini berawal dari keberhasilan Ian Wilmut, Keith Campbell dan tim di Roslin Institut-Skotlandia dalam mengkloning domba Dolly pada tahun 1996. Setelah itu muncullah hasil cloning lain seperti pada monyet. Selain itu beberapa lembaga berhasil mengkloning bagian tubuh manusia seperti tangan.
Ilmuan Amerika pun terus melakukan percobaan ini pada manusia. Dan pada 2004, manusia cloning pertama didunia bernama Eve berhasil dilahirkan, dan kini telah menginjak bangku sekolah dasar.
Dalam pandangan ilmu yang tidak bebas nilai, pengembangan teknologi harus mempertimbangkan dampak-dampak dari beberapa aspek, seperti aspek etika dan moral, agama dan kesehatan. Secara etika, moral dan keagamaan adalah tidka wajar jika seseorang dijadikan tiruan atau ditiru. Setiap pribadi manusia memiliki hak atas oginalitasnya.
Dengan cloning tidak mungkin seseorang menjadi original, karena akan ada dua individu yang sama namun sebenarnya berbeda. Human cloning pada dasarnya merupakan instrumentalisasi yang berarti manusia dijadikan obyek penelitian atau diperalat. Martabatnya sebagai manusia dilecehkan. Dalam proses cloning manusia tidak menjadi tujuan, melainkan sebagai sarana uji coba laboratorium demi menemukan sesuatu yang baru.
Selain itu, jika human cloning dipakai sebagai usaha untuk mencegah terjadinya kematian, atau mengembalikan seseorang yang sangat terkenal dalam sejarah maka akan sangat memungkinkan adanya keabadian bahkan kebangkitan. Dimana hal ini bertentangan dengan ajaran agama.
Bila dilihat dari aspek kesehatan, sampai saat ini cloning masih sangat tidak aman, contohnya domba Dolly yang memiliki sistem imunitas kurang baik. Berdasarkan data dari beberapa situs internet, ditemukan fakta bahwa sebelum terciptanya domba Dolly para ilmuan harus melewati 227 kali percobaan gagal terlebih dahulu. Dari sini dapat disimpulkan Human cloning yang tentunya memiliki tingkat kerumitan jauh lebih tinggi akan sangat berbahaya dan beresiko.
Jika berdasarkan ilmu yang tidak bebas nilai, beberapa aspek nilai diatas seperti nilai moral, etika agama bahkan kesehatan akan menghambat perkembangan teknologi Human cloning ini bahkan bukan tidak mungkin nilai-nilai tersebut menghentikan total perkembangan teknologi ini.
Terimakasih sudah membaca
Semoga bermanfaat 🙏